Robin, SPi

CATEGORY: | Selasa, 09 Februari 2010
0
Nama : Robin, SPi
TTL : Jebus, 2 Januari 1983
Alamat : Jl. Parit Padang No. 53 Kec. Sungailiat Kab. Sungailiat
email : affifahroh@ymail.com
Pendidikan : S1 Budidaya Perairan

HIMADIKAN PEDULI BILQIS

CATEGORY: , |

Himpunan Mahasiswa D3 Perikanan (Himadikan) Universitas Bangka Belitung (UBB) melakukan aksi pengumpulan “Koin Cinta Bilqis”, rabu, 3 Februari 2010. Melalui kegiatan satu hari ini, Himmadikan berhasil mengumpulkan dana Rp. 6.434.250,-. Pengumpulan koin peduli ini dilakukan Himmadikan di Kantor Bupati Bangka, Gedung DPRD Kab. Bangka, perkantoran dinas Kabupaten Bangka, sekolah-sekolah, persimpangan lampu merah, dan kantor-kantor Partai politik yang terdapat di Sungailiat.

Gerakan kemanusiaan ini melibatkan 25 mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa D3 Perikanan (Himadikan). Ketua Himmadikan Jaka Sona mengatakan pengumpulan koin cinta Bilqis ini sebagai bentuk empati dan kepeduliaan mereka terhadap nasib Bilqis Anindya Passa, bayi 17 bulan pengidap kelainan saluran empedu tidak terbentuk atau tidak berkembang secara normal.

Sebagaimana yang diberitakan dibeberapa media bahwa gerakan koin cinta Bilqis saat ini telah menjadi gerakan nasional. Melihat kondisi tersebut, muncul inisiatif pengurus Himpunan Mahasiswa D3 Perikanan (Himadikan) yang baru terbentuk. Muncul ide dan niat dari para pengurus Himadikan untuk menjadi inisiator dan pionir di Bangka Belitung untuk melakukan gerakan koin cinta Bilqis ini. Gerakan ini merupakan sebuah simbol kepeduliaan sosial bagi sesama anak bangsa. Dari kegiatan ini diharapkan akan menimbulkan multi effect bagi masyarakat Bangka untuk selalu berempati dan peduli atas kondisi kesusahan yang dialami oleh orang lain. Dalam kegiatan ini, empati masyarakat terhadap derita yang dialami Bilqis cukup besar. Masyarakat antusias dan menyambut baik. Jaka Sona juga menambahkan bahwa mereka akan terus aktif untuk peduli terhadap kondisi sosial masyarakat. Rencana kedepan mahasiswa Himadikan akan mengadakan aksi penggalangan dana untuk masalah-masalah sosial seperti : gizi buruk di Bangka Belitung.

Antibakteri Actinobacillus sp terhadap Aeromonas hydrophilla

CATEGORY: , |
0
KAJIAN AKTIVITAS SENYAWA ANTIBAKTERI Actinobacillus sp DARI LARVA IKAN PATIN SIAM (Pangasius hypopthalmus) TERHADAP BAKTERI Aeromonas hydrophilla

Ardiansyah Kurniawan, SPi, MP 1), Prof. Ir. Marsoedi, PhD 2), Prof. Dr. Eddy Suprayitno,MSi 2

Abstrak

Kajian aktifitas senyawa antibakteri Actinobacillus sp dari larva ikan patin siam ( Pangasius hypopthalmus) terhadap bakteri Aeromonas hydrophilla dilakukan dengan mengisolasi bakteri dari larva ikan patin siam, identifikasi bakteri, pengujian daya hambat terhadap pertumbuhan Aeromonas hydrophilla dan analisa senyawa antibakteri pada metabolit Actinobacillus sp. Hasil uji penghambatan pertumbuhan menunjukan bahwa dari 6 isolat bakteri yang diidentifikasi, Actinobacillus sp memiliki kemampuan penghambatan yang lebih besar dibandingkan isolat bakteri lainnya. Berdasarkan waktu pertumbuhan bakteri Actinobacillus sp, daya hambat terbesar diperoleh pada fase kematian (jam ke-24). Senyawa antibakteri yang terdapat pada metabolit Actinobacillus sp berdasarkan hasil analisa GCMS adalah Hexanedioic acid bis (2-ethylhexyl) ester dengan area 24,75%.

Kata kunci : Antibakteri, Actinobacillus sp, Aeromonas hydrophilla, Larva ikan patin siam.

1. Pendahuluan

Ikan patin siam (Pangasius hypopthalmus) sebagai salah satu komoditas perikanan air tawar yang memiliki nilai ekonomis penting menghadapi masalah yang sama dalam pembudidayaannya. Menurut Slembrouck, Komarudin dan Maskur (2005), bakteri patogen utama yang menginfeksi pangasius adalah bakteri Aeromonas hydrophila. Ikan pangasius yang terinfeksi bakteri ini mengalami kondisi perilaku tidak normal, menolak pakan, pendarahan, warna pucat dan sirip terkikis hingga luka pada kulit sampai ke bagian otot.

Bakteri Aeromonas hydrophila umumnya ditemukan di perairan beriklim hangat baik perairan tawar, payau maupun laut. Bakteri ini merupakan bakteri gram negatif yang bersifat heterotropik dan mampu bergerak dengan flagel (White, 2009). Aeromonas hydrophila mampu bertahan hidup pada lingkungan aerob maupun anaerob. Aeromonas hydrophila menyebabkan penyakit bagi ikan dengan memproduksi Aerolysin Cytotoxic Enterotoxin (ACT) yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan. (Anonymous,2009).

Fase larva Pangasius hypophthalmus memiliki kondisi yang lemah dengan organ tubuh yang baru terbentuk dan belum sempurna menjadikan fase larva sebagai masa kritis dalam pertumbuhan ikan patin. Menurut Slembrouck, Komarudin dan Maskur (2005), larva ikan Pangasius hypophthalmus memiliki panjang 1,6 mm dan bobot 1,5 mg setelah menetas dan mencapai panjang 5 mm setelah berumur 10 hari. Menurut Sularto (2008), larva Pangasius hypophthalmus memiliki kuning telur yang menempel pada bagian perut larva. Kuning telur ini habis setelah berumur 20 jam. Bakteri patogen Aeromonas hydrophila memungkinkan untuk menyebabkan lebih banyak kematian pada ikan patin siam dalam fase larva dibandingkan fase yang lain.

Penanggulangan penyakit akibat Aeromonas hydrophilla seringkali dilakukan dengan penggunaan antibiotik. Namun seiring permintaan konsumen untuk menghilangkan penggunaan antibiotik, maka perlu ada alternatif pengganti yang mampu menekan pertumbuhan Aeromonas hydrophila tetapi tidak membahayakan pertumbuhan larva ikan patin. Salah satu alternatif untuk mengontrol bakteri patogen khususnya Aeromonas hydrophilla pada budidaya ikan patin adalah dengan menambahkan bakteri antagonistik sebagai bio kontrol.

Penelitian tentang mikroorganisme yang berperan dalam menekan pertumbuhan bakteri patogen diperlukan untuk menanggulangi permasalahan di atas. Untuk kesesuaian dengan pertumbuhan larva ikan patin, maka bakteri penghambat Aeromonas hydrophyla di isolasi dari larva ikan patin. Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka perlu adanya kajian aktivitas antimikroba pada Actinobacillus sp dari Larva Ikan Patin Siam sehingga dapat memberikan informasi penting tentang kemampuannya menghambat bakteri patogen dalam upaya peningkatan hasil produksi ikan patin.

2. Alat dan Bahan

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi : Autoclave, GC-MS (Gas Chromathography Mass Spectrometry), Micropipet, Mikrobact, cawan petri, laminar flow, sentrifuge, tabung reaksi, timbangan analitik, erlenmeyer, jarumose, bunsen, shaker inkubator, penyaring, coloni counter, haemocytometer, mikroskop, pinset, triangle, inkubator, ruang coldstorage, pengering vakum.

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi : Biakan murni Aeromonas hydrophila yang diperoleh dari Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang, larva ikan patin siam yang diperoleh dari Loka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budidaya Perikanan Air Tawar (LRPTBPAT), Sukamandi, Subang, Media TSA (Tryptone Soy Agar), NB (Nutrien Broth), Aquadest, kertas cakram (paper disc), Tris Cl, Amonium sulfat, alkohol.


3. Metode penelitian

Identifikasi Bakteri

Isolat bakteri yang diperoleh akan dilakukan identifikasi berdasarkan Bergey’s Manual of Determinative Bacteriology (Hold et al., 1994) yang meliputi: pengamatan morfologi koloni, pengamatan morfologi bakteri, pengujian sifat biokimia bakteri, pengujian motilitas dan penghitungan kepadatan isolat bakteri.

Uji penghambatan terhadap bakteri Aeromonas hydrophilla

Bakteri-bakteri yang ditemukan dan diisolasi dari larva ikan patin di uji kemampuan penghambatannya terhadap bakteri Aeromonas hydrophilla dengan metode cakram. Metabolit ekstraseluler dari bakteri-bakteri yang diisolasi dari larva ikan patin siam, diekstrak melalui 2 cara yaitu menggunakan presipitasi protein dan mikro filter.

Penentuan kurva pertumbuhan

Penentuan kurva pertumbuhan dengan menghitung jumlah bakteri pada jam ke-0 sampai terjadi penurunan jumlah sel mendekati jumlah awal pada setiap 1 jam. Penghitungan jumlah bakteri dilakukan secara keseluruhan (langsung). Penghitungan secara langsung dapat dilakukan secara mikroskopis yaitu dengan menghitung jumlah bakteri dalam satuan isi yang sangat kecil. Alat yang digunakan adalah Haemocytometer dan mikroskop.

Penentuan waktu pertumbuhan bakteri dengan daya hambat optimum

Setiap 2 jam setelah bakteri memasuki fase stationer, dilakukan ekstraksi metabolit bakteri Actinobacillus sp untuk di uji daya hambat terhadap Aeromonas hydrophilla dengan metode cakram. Penghitungan kemampuan penghambatan dari diameter zona bening yang dihasilkan.

Analisa GCMS

Metabolit bakteri Actinobacillus sp dengan daya hambat optimal di analisa senyawa kandungannya dengan GCMS. Supernatan metabolit cair di freeze drying dan diencerkan dengan n-hexane. Selanjutnya diinjeksikan pada GCMS untuk mendapatkan kromatogram. Hasil spektro massa disesuaikan dengan data librabry senyawa kimia.

3. Hasil dan Pembahasan

Identifikasi bakteri

Hasil isolasi dan identifikasi bakteri diperoleh 6 jenis bakteri yaitu Bacillus megaterium, Bacillus mycoides, Acinetobacter boumanii, Actinobasillus sp, Pseudomonas putida dan Micrococcus sp.

Uji penghambatan terhadap bakteri Aeromonas hydrophilla

Hasil uji penghambatan metabolit Aeromonas hydrophilla menunjukkan proses ekstraksi dengan mikro filter menghasilkan penghambatan lebih besar dibandingkan proses ekstraksi melalui presipitasi protein. Bakteri dengan daya hambat paling besar adalah bakteri Actinobacillus sp.

Kurva Pertumbuhan Actinobacillus sp

Dari hasil perhitungan jumlah sel bakteri Actinobacillus sp, diperoleh grafik pada pertumbuhan bakteri pada gambar 2. Bakteri actinobacillus sp memasuki fase log pada jam ke-3 sampai jam ke-10, fase stationer pada jam ke-10 dan memasuki fase kematian pada jam ke-11.

Penentuan waktu pertumbuhan bakteri dengan daya hambat optimum

Diameter zona penghambatan pertumbuhan Aeromonas hydrophylla oleh metabolit Actinobacillus sp pada fase setelah fase stationer yaitu pada jam ke-12 sampai jam ke-24 adalah berkisar antara 11,26 – 15,20 mm. Semakin lama waktu tumbuh hingga memasuki fase kematian maka semakin besar daya hambat anti bakteri metabolit terhadap pertumbuhan Aeromonas hydrophylla. Pada jam ke-24 dihasilkan zona hambat terbesar yaitu rata-rata 15,20 mm. Grafik hasil pengujian daya hambat metabolit Actinobacillus sp terhadap Aeromonas hydrophilla.

Kontrol negatif berupa media steril tanpa pemberian Aeromonas hydrophila maupun antibakteri Actinobacillus sp sebagai pembanding absorbansi tanpa adanya pertumbuhan sel bakteri, sedangkan kontrol positif berupa biakan Aeromonas hydrophila pada media tanpa penambahan antibakteri Actinobacillus sp sebagai pembanding jumlah sel bakteri Aeromonas hydrophila tanpa penghambatan antibakteri.

Analisa GCMS

Metabolit dari Actinobacillus sp yang memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan Aeromonas hydrophila, di uji jenis-jenis senyawa yang terkandung didalamnya melalui gas chromatography-mass spectrometry (GCMS). Sebelum di uji menggunakan GCMS, metabolit bakteri Actinobacillus sp di freeze drying untuk menghilangkan air dalam metabolit. Menurut Dennison (2002), Freeze drying adalah metode untuk memisahkan air dari sample dengan suhu rendah. Air dikeluarkan langsung dari es (sample beku) melalui penyubliman. Pengurangan air tersebut dapat menghambat reaksi kimia yang menggunakan air sehingga membantu pada proses penyimpanan sample.

Metabolit Actinobacillus dalam bentuk kering di uji GCMS dengan menggunakan GCMS tipe GCMS-QP2010S SHIMADZU dengan Kolom HP-5MS, Panjang :30 meter, diameter 0,25 mm, Gas pembawa Helium. Metode yang digunakan adalah Suhu Column Oven 100 °C, Suhu Injection 300 °C, Mode Injection Splitless, Sampling Time 1 menit, Flow Control Mode Pressure, Pressure 22.0 kPa, Total Flow 60.0 mL/min, Column Flow 0.50 mL/min, Linear Velocity 26.3 cm/sec, Purge Flow 3.0 mL/min, Split Ratio 113.0. Hasil pengujian GCMS pada metabolit Actinobacillus sp ditampilkan pada Gambar 5.

Hasil GC pada senyawa antibakteri Actinobacillus sp menghasilkan 16 puncak. Ke-16 puncak tersebut di spektra massa sehingga dapat diketahui jenis senyawa yang terdapat pada masing-masing puncak dan diketahui senyawa yang berperan dalam penghambatan bakteri Aeromonas hydrophila. Hasil pembanding kromatogram GCMS dengan data kromatogram senyawa ditunjukkan pada table 3.

9-Octadecenoic acid (Z)-, methyl ester merupakan asam lemak yang termasuk dalam palmitoleic acid (Goren et al, 2003). Senyawa ini dapat diproduksi dari derivat asam oleat dan metanol melalui esterifikasi dan dimasa mendatang dapat dimanfaatkan sebagai emulsifier, detegen dan bahan penstabil (Anonymous, 2009).2-Pentadecanone, 6,10,14-trimethyl yang diprediksi merupakan senyawa pada puncak ke-4 asam lemak yang memiliki kemampuan anti mikroba terhadap bakteri gram positif dan gram negatif tetapi tidak memiliki kemampuan sebagai anti jamur. Menurut Yayli et al (2005), ekstrak lemak essensial Minuartia meyeri memiliki kandungan 2-Pentadecanone, 6,10,14-trimethyl sebanyak 5,1%. Ekstrak tersebut mampu menghambat bakteri Y. pseudotuberculosis, E. faecalis and S. aureus, namun tidak mampu menghambat E. coli, K. pneumoniae, S. marcescens and B. subtilis, serta jamur C. albicans and C. tropicalis.

Hexanedioic acid bis (2-ethylhexyl) ester pada puncak ke-7 termasuk dalam golongan asam lemak Senyawa ini memiliki kemampuan antibakteri dimana juga terdapat pada bawang putih jenis Ophioscordon dan Sativum. Ekstrak kedua jenis bawang putih tersebut memiliki kandungan Hexanedioic acid bis (2-ethylhexyl) ester, 3-deoxy-4-mannoic lactone, thymine dan hexanedoic dan memiliki kemampuan untuk menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli, Proteus mirabilis, Salmonella typhi, Shigella flexineri and Enterobacter aerogenes (Rajadurai dan Sagar, 2006).

Pada puncak 14 diprediksi merupakan senyawa phenol yang memiliki area 0,48% pada waktu retensi 30,4 menit. Phenol atau asam karbolat atau benzenol adalah zat kristal tak berwarna yang memiliki bau khas. Rumus kimianya adalah C6H5OH dan strukturnya memiliki gugus hidroksil (-OH) yang berikatan dengan cincin fenil. Fenol dapat digunakan sebagai antiseptik seperti yang digunakan Sir Joseph Lister saat mempraktikkan pembedahan antiseptik. Fenol merupakan komponen utama pada antiseptik dagang, triklorofenol atau dikenal sebagai TCP (trichlorophenol). Fenol juga merupakan bagian komposisi beberapa anestitika oral, misalnya semprotan kloraseptik (Anonymous, 2009g) Dengan kemampuan tersebut maka phenol dimungkinkan untuk memiliki peran menghambat pertumbuhan bakteri Aeromonas hydrophila

Asam amino yang muncul pada hasil analisa spektro massa adalah L-tyrosine. Tyrosin terdapat pada waktu retensi 32,217 menit dengan luas area 0,79%. Pada sebagian besar mikroorganisme, tyrosine diproduksi melalui prephenate. Prephenate merupakan dekarboksilasi oksidatif dengan retensi dari gugus hidroksi dimana transaminasi menggunakan glutamat sebagai sumber nitrogen untuk menghasilkan tyrosine dan α-ketoglutarate. Menurut Supardjo (2006), bakteriosin merupakan peptida antibakteri yang disintesis secara ribosomal dengan tersusun oleh 30 sampai 60 asam amino. Mekanisme kerja bakteriosin menghambat bakteri lain secara umum dengan menyerang membran sitoplasma melalui pembentukan pori membran sehingga meningkatkan permeabilitas membran

Tyrosin sebagai salah satu jenis asam amino dan terkandung dalam antibakteri yang dihasilkan oleh Actinobacillus sp, diprediksi merupakan satu dari asam amino-asam amino yang terdapat dalam senyawa antibakteri tersebut. Hal ini disebabkan tyrosin merupakan asam amino yang kepolarannya paling kecil. Sehingga mampu terdeteksi dengan analisa GCMS. Maka dimungkinkan adanya kemampuan antibakteri seperti bakteriosin dalam antibakteri yang dihasilkan oleh Actinobacillus sp dengan tyrosin yang bergabung dengan asam amino lainnya dalam polypeptida.


4. Penutup

Kesimpulan

Bedasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

§ Bakteri Actinobacillus sp yang diisolasi dari larva ikan patin siam memiliki kemampuan menghambat lebih besar dibandingkan isolat bakteri lainnya terhadap pertumbuhan Aeromonas hydrophilla dengan metode penyaringan mikro filter.

§ Daya hambat terbesar dari anti bakteri yang dihasilkan Actinobacillus sp adalah pada jam ke 24 yaitu pada fase kematian.

§ Senyawa antibakteri yang dihasilkan Actinobacillus sp yang dimungkinkan menghambat pertumbuhan Aeromonas hydrophilla adalah 2-Pentadecanone, 6,10,14-trimethyl, Hexanedioic acid bis (2-ethylhexyl) ester, polipeptida dan phenol.

Saran

Dari hasil penelitian ini dapat disampaikan beberapa saran, diantaranya :

§ Senyawa antibakteri Aeromonas hydrophila dapat diekstraksi pada jam ke-24 dari pertumbuhan bakteri Actinobacillus sp.

§ Perlu dilakukan uji pada senyawa anti bakteri dari Actinobacillus sp dengan pemisahan senyawa dan penentuan konsentrasi dalam penghambatannya terhadap Aeromonas hydrophila serta penelitian in vivo tentang pengaruh senyawa antibakteri terhadap larva ikan patin baik melalui pemberian kultur bakteri Actinobacillus sp maupun pemberian senyawa anti bakteri dari Actinobacillus sp

Daftar Pustaka

Anonymous. 2009. Aeromonas hydrophilla. Diakses dari www.wikipedia.org pada tanggal 14 februari 2009.

Anonymous. 2009. 9-Octadecenoic acid (Z)-, methyl ester. Diakses dari www.cemyq.com pada tanggal 19 Agustus 2009.

Anonymous, 2009. Phenol. Diakses dari www.wikipedia.org pada tanggal 19 Agustus 2009.

Dennison.C, 2002. A Guide to Protein Isolation. Kluwer Academic Publisher. New York

Slembrouck.J, O. Komarudin, dan Maskur. 2005. Petunjuk teknis pembenihan ikan patin indonesia, Pangasius djambal. IRD dan Pusat Riset Perikanan Budidaya, Badan Riset Kelautan dan Perikanan.

Sularto Pamungkas Wahyu, dan Bambang Iswanto, 2008. Perkembangan Awal Larva Ikan Patin Hasil Persilangan Antara Betina Patin Siam dengan Jantan Patin Jambal. Loka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budidaya Perikanan Air Tawar. Sukamandi. Subang

Suparjo. 2008. Bakteriosin dan peranannya dalam ekologi Mikroba Rumen. Jajo66.wordpress.com. diakses tanggal 24 Februari 2009.

White.R, 2009. Diagnosis of Aeromonas hydrophila Infection in Fish. Animal Disease Diagnostic Laboratory

Pemberdayaan Pembudidaya Ikan dan Nelayan Berbasis Kampus

CATEGORY: | Jumat, 05 Februari 2010
Oleh : Eva Prasetiyono/ Dosen Universitas Bangka Belitung/ Pengurus DPW Perhimpunan Petani dan Nelayan Sejahtera Indonesia Kepulauan Bangka Belitung

Bangka Belitung merupakan daerah kepulauan yang kaya akan potensi dan sumber daya alam. Potensi yang terkandung di bumi serumpun sebalai ini tersebar disetiap penjuru kabupaten. Salahsatu potensi yang saat ini digandrungi oleh masyarakat Bangka Belitung sebagai mata pencaharian utama yaitu sektor Pertambangan. Sektor ini terbukti secara sah dan meyakinkan mampu meningkatkan taraf ekonomi kehidupan masyarakat Bangka Belitung. Kegiatan ini sangat marak dilakoni oleh masyarakat karena penghasilan yang didapatkan dari kegiatan ini cukup tinggi dan telah membuat masyarakat meningkat kesejahteraannya (baca : kaya). Namun yang namanya pertambangan adalah sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui. Suatu saat timah akan habis, dan ketika timah sudah betul-betul habis maka yang akan terjadi kemudian adalah kondisi masyarakat yang merana berkepanjangan.

Disamping penambangan timah, mata pencaharian lain yang dilakoni oleh masyarakat Bangka Belitung adalah di sektor perikanan, baik pada perikanan tangkap (nelayan) maupun pada perikanan darat (pembudidaya ikan). Jumlah para masyarakat yang bergerak pada sektor perikanan di Bangka Belitung belum begitu banyak. Hal ini dikarenakan trend untuk menjadikan masyarakat menjadi pelaku perikanan belum begitu menguat. Seharusnya masyarakat diarahkan untuk mengalami metamorphosis mind set dari kegiatan penambangan ke kegiatan perikanan. Dengan jumlah dan luas perairan yang cukup luas, bukanlah sebuah hal yang mustahil untuk menjadikan Bangka Belitung sebagai sentra perikanan di Indonesia sebagaimana Gorontalo yang menjadi sentra Jagung di Indonesia. Salahsatu upaya yang dapat dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut adalah optimalisasi pemberdayaan pembudidaya ikan dan nelayan yang ada di Bangka Belitung.

Departemen Kelautan dan Perikanan yang sekarang sudah tidak lagi berbentuk departemen tapi berbentuk Kementerian Kelautan dan Perikanan sesuai dengan PP No. 47 tahun 2009, merupakan instansi yang membuat kebijakan tentang perikanan di Indonesia. Berkenaan dengan program pemberdayaan pembudidaya ikan dan nelayan di Indonesia, kementerian Kelautan dan Perikanan di Indonesia telah menelorkan beberapa kebijakan yang diharapkan akan bermuara pada peningkatan kesejahteraan pembudidaya ikan dan nelayan. Beberapa kebijakan yang diambil pemerintah berkaitan dengan peningkatan kegiatan usaha para pembudidaya ikan dan nelayan yaitu : bantuan fasilitas (sarana dan prasarana kegiatan perikanan), bantuan permodalan (Dana Penguatan Modal), penyuluhan tentang teknik budidaya ikan, sertifikasi benih, standar benih nasional Indonesia, pengolahan hasil perikanan, pemberdayaan istri-istri nelayan, penyuluhan tentang pembentukan koperasi, Program PNPM-pesisir, PEMP (Program ekonomi Masyarakat Pesisir) dan program-program lainnya. Kebijakan-kebijakan diatas di break down ke tataran Dinas kelautan dan perikanan untuk kemudian diimplementasikan ke masyarakat.

Pemberdayaan masyarakat merupakan salahsatu upaya dalam membantu peningkatan kegiatan usaha para nelayan dan pembudidaya ikan sehingga pada akhirnya taraf hidup mereka akan meningkat. Pola pemberdayaan dilakukan diantaranya melalui program-program yang telah digariskan. Saat ini banyak upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah dalam menyukseskan upaya pemberdayaan masyarakat, diantaranya yaitu : melalui rekruitmen penyuluh-penyuluh kontrak dan atau optimalisasi peran PNS di dinas kelautan dan perikanan. Penyuluh-penyuluh kontrak dan atau tenaga teknis lapangan PNS inilah yang menjadi ujung tombak dalam mensosialisasikan program pemerintah sehingga masyarakat terberdayakan dan terbantu kegiatan usahanya.

Dalam perjalanannya penyuluh-penyuluh kontrak dan tenaga teknis lapangan PNS yang ada kapasitasnya tidak terlalu besar. Salahsatunya karena minimnya jumlah tenaga yang ada. Minimnya jumlah tenaga penyuluh yang ada karena minimnya dana. Tidak semua tenaga penyuluh dan PNS mampu menjangkau setiap desa yang ada. Di Bangka Belitung, kondisi minimnya tenaga penyuluhpun terjadi. Jumlah tenaga teknis lapangan dalam konteks pemberdayaan pembudidaya ikan dan nelayan masih kurang. Berkaca dari hal tersebut diatas, Saatnya untuk kemudian memanfaatkan kampus dalam program pemberdayaan masyarakat. Pemanfaatan kampus dalam hal ini para mahasiswanya untuk program pemberdayaan pembudidaya ikan dan nelayan memiliki asas mutualisme. Asas Mutualisme yang dimaksud yaitu di satu sisi pemerintah diuntungkan karena pemerintah punya tenaga-tenaga muda, energik dan penuh semangat dalam mensukseskan program-program pemberdayaan pembudidaya ikan dan nelayan. Disamping itu tidak pemerintah tidak perlu mengeluarkan dana yang besar. Disisi lain mahasiswa juga diuntungkan karena dengan dilibatkannya mahasiswa dalam program pemberdayaan ini, mahasiswa akan mampu mengaplikasikan (praktek) secara langsung ilmu dan pengetahuan teori yang didapat dari kuliah ke lapangan. Mahasiswa tidak hanya berkutat pada diktat kuliah atau hal-hal yang bersifat normatif saja namun juga mampu menerapkan. Mahasiswa dituntut untuk bisa memberikan penyuluhan kepada masyarakat dan membina masyarakat dalam konteks pemberdayaan. Tentu saja mahasiswa tidak sendiri. Mahasiswa akan diarahkan oleh pihak dinas atau oleh para dosen yang memiliki tanggungjawab moral dalam membina mahasiswa. Kesertaan mahasiswa dalam kegiatan pemberdayaan ini juga memiliki nilai lebih yaitu sebagai salahsatu bentuk pengamalan tridharma perguruan tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat.

Untuk mewujudkan kegiatan pemberdayaan masyarakat berbasis kampus adalah melalui program kemitraan antara pihak pemerintah dalam hal ini Dinas kelautan dan Perikanan dengan pihak Perguruan Tinggi. Di Bangka Belitung saat ini Dinas kelautan dan Perikanan baik tingkat provinsi maupun kabupaten sedang gencar-gencarnya dalam melakukan aktivitas pembangunan perikanan dalam hal pemberdayaan pembudidaya ikan dan nelayan melalui aktivitas-aktivitas penyuluhan. Disisi lain di Bangka Belitung memiliki Universitas Bangka Belitung yang memiliki jurusan perikanan (Program studi DIII Perikanan yang akan bermetamorfosis menjadi S1 Budidaya Perairan). Dengan melihat kenyataan ini, maka program pemberdayaan pembudidaya ikan dan nelayan berbasis kampus sangat mungkin untuk dilakukan.

Mahasiswa adalah agent of change, kaum intelektual, namun semua itu perlu dibuktikan. Pembuktian yang harus dilakukan oleh mahasiswa tidak sekedar turun ke jalan, berdemonstrasi atau mengkritik pemerintah. Namun mahasiswa juga dituntut untuk mengaktualisasikan ilmu di bangku kuliah mereka dalam bentuk karya-karya nyata ke masyarakat, salahsatunya melalui bentuk pengabdian kepada masyarakat. Untuk mahasiswa perikanan salahsatu yang dapat ditempuh adalah melalui keterlibatan dalam kegiatan-kegiatan pemberdayaan masyarakat pembudidaya ikan dan nelayan. Semoga pembangunan perikanan melalui pemberdayaan pembudidaya ikan melalui kerjasama berbagai elemen dan stakeholder di Bangka Belitung dapat terlaksana secara progressif sehingga Bangka Belitung dapat meraih predikat Provinsi Perikanan. Semoga!

Proses Pembekuan Udang

CATEGORY: , | Kamis, 04 Februari 2010
0
Pembekuan udang merupakan proses penanganan udang secara modern yang paling lazim digunakan. Selain tidak merubah penampilan dan tekstur, juga memiliki daya awet yang lama yaitu mencapai 2 tahun. Sehingga waktu pengiriman yang lama sekitar 1-2 bulan hingga mencapai konsumen luar negeri tidak mempengaruhi kualitas produk. Sebagian besar udang yang dipanen di Indonesia baik melalui penangkapan maupun budidaya, diproses melalui pembekuan. Produk beku lebih diminati dibanding produk olahan lainnya karena masih merupakan produk setengah jadi dan dapat diproses kembali menjadi produk lain.

Proses pembekuan udang secara umum adalah sebagai berikut :

  1. Udang diterima dari suplier dan tambak dalam kondisi Head On (HO) dalam box dengan pendingin es. Udang diterima pada bagian penerimaan untuk dicuci ozon dan dilakukan sampling size maupun mutu udang. Selain itu dilakukan juga uji chlorampenichol yang sering kali digunakan oleh petambak udang. Uji ini dilakukan atas permintaan konsumen yang mengharapkan zero antibiotik. Sementara penggunaan antibiotik masih seringkali digunakan oleh petambak udang.
  1. Setelah penerimaan bahan baku berupa HO adalah dilakukannya proses potong kepala yaitu melepaskan bagian kepala udang dan badan udang, serta membersihkan kotoran yang terdapat diantara badan dan kepala udang. Hasil dari proses ini adalah udang head less atau HL.
  2. Udang HL ini kemudian disortir secara otomatic dengan mesin pengatur berat atau ukuran sehingga lebih seragam ukurannya. atau menggunakan mesin grading yang mengatur volume tubuh udang untuk memisahkan udang berdasarkan size.
  3. Udang hasil sortir dikupas sesuai permintaan. Ada beberapa jenis kupasan yaitu PND (peel and diveined), PUD (peel un diveined), PDTO (peel diveined tail on) dan BTO ( Buterfly tail on). Ada juga beberapa jenis kupasan lain.
  4. Udang hasil kupasan dibekukan dengan mesin pembeku. Ada beberapa macam metode pembekuan : IQF (individual quick frozen), Air blast freezer, contact plate freezer.
  5. Udang hasil pembekuan dipacking sesuai permintaan buyer.

ANDRI KURNIAWAN, SPi., MP

CATEGORY: , |
0
Andri Kurniawan, SPi., MP
Pangkalpinang, 09 Desember 1984
Andri_pangkal@yahoo.com

PENDIDIKAN
D3 Teknologi Hasil Perikanan Institut Pertanian Bogor 2005
S1 Teknologi Hasil Perikanan Universitas Brawijaya 2007
S2 Budidaya Perairan Universitas Brawijaya 2009

MATAKULIAH
Pengantar Teknologi Hasil Perikanan
Penyakit Ikan
Manajemen Mutu Perikanan Terpadu
Manajemen Lingkungan Budidaya Perairan

PENGALAMAN KERJA

Kompetensi lulusan

CATEGORY: , |
0
Kualifikasi lulusan Program Studi Budidaya Perairan dalam rangka menghadapi tantangan dan tuntutan global adalah :
  1. Menjadi anggota masyarakat yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki kemampuan akademik dan profesional yang dapat menerapkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang Budidaya Perairan.
  2. Mampu mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan di bidang ilmu perikanan secara luas, yaitu Budidaya Perairan dan berjiwa entrepreneur untuk mengoptimalkan potensi alam yang ada.
  3. Mampu memanajemen, cakap, terampil dan berbudi luhur, untuk memenuhi kebutuhan pembangunan perikanan nasional dan regional.
  4. Memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik serta dapat mengaplikasikan ilmu yang didasarkan pada prinsip dasar teoritis yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
Program studi S1 Budidaya Perairan mampu menghasilkan tenaga kerja sarjana perikanan profesional yang mandiri bagi pembangunan nasional guna mengisi kebutuhan, masyarakat akan tenaga praktis profesional di bidang Budidaya Perairan yang terampil, mandiri, serta peka terhadap perubahan sosial, ilmu dan teknologi.

Visi, Misi dan Tujuan Prodi Budidaya Perairan

CATEGORY: , |
0
Visi Program Studi S1 Budidaya Perairan
Menjadikan Program Studi S1 Budidaya Perairan sebagai prodi unggulan dan andalan Indonesia di mata dunia dalam rangka mendayagunakan sumberdaya alam perairan, khususnya dalam mengidentifikasikan, mengestimasikan dan memanfaatkan sumber daya perikanan bidang Budidaya Perairan. (Visi barangkali bisa lebih singkat, padat dan tidak terlepas dari misi UBB)

Misi Program Studi S1 Budidaya Perairan
Menghasilkan lulusan yang berkualitas dan mampu berkompetisi dalam:
1. Menyelenggarakan pendidikan tinggi di bidang perikanan budidaya guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat dimasa datang.
2. Mengembangkan IPTEK berlandaskan Imtaq melalui penelitian di bidang perikanan dan kelautan.
3. Mendayagunakan IPTEK bidang ilmu perikanan dan kelautan untuk kesejahteraan masyarakat.

Tujuan Program Studi S 1 Budidaya Perairan
Tujuan didirikan Program Studi ini adalah menghasilkan sarjana terdidik yang menguasai ilmu pengetahuan agar terampil, dan mampu berpikir, berkarya dalam menerapkan ilmu dan teknologi, sehingga dapat menciptakan wirausaha (entrepreneur) dan manajer tingkat menengah ke atas bidang perikanan yang menguasai dan mampu menerapkan ilmu Teknologi Budidaya Perairan secara efektif – rasional dalam kegiatan produktif dan pengendalian kelestarian sumberdaya yang berkelanjutan.

Profil Ardiansyah Kurniawan, SPi, MP

CATEGORY: , |
2


Ardiansyah Kurniawan, SPi., MP
Malang, 24 Maret 1979
Ardian_turen@yahoo.co.id

PENDIDIKAN
S1 Teknologi Hasil Perikanan Universitas Brawijaya 2002
AKTA IV Biologi Universitas Darul Ulum Jombang 2006
S2 Budidaya Perairan Universitas Brawijaya 2009

MATAKULIAH
Teknik Pembuatan dan Pemberian Pakan
Teknik Produksi Pakan Alami
Evaluasi Proyek Usaha Perikanan
Ekonomi Perikanan

PENGALAMAN KERJA
2003 – 2005 Supervisor Produksi PT. Bumi Menara Internusa, Malang
2005 – 2009 Guru Produktif SMKN 2 Turen, Malang, Jatim
2009 – 2010 Guru Produktif SMKN 1 Bula, Seram Timur, Maluku
2010 - ... Dosen Budidaya Perikanan Universitas Bangka Belitung

Retribusi dan Marginalisasi Nelayan

CATEGORY: |
0
Andri Kurniawan, S.Pi., MP

Dosen D3 Perikanan, FPPB, Universitas Bangka Belitung




Salah satu isu kebijakan kalautan dan perikanan yang sedang marak dibicarakan adalah seputar penghilangan pungutan (retribusi) bagi nelayan yang merupakan suatu ide “ektrim” dari Menteri Kelautan dan Perikanan sekarang, Fadel Muhammad. Mulai 1 Januari 2010 kemarin, semua nelayan di seluruh Indonesia dibebaskan dari segala macam bentuk pembayaran retribusi dimana ini merupakan catatan sejarah baru bagi dunia kelautan dan perikanan Indonesia. Banyak yang mendukung, tetapi tidak sedikit yang mencibir. Meskipun demikian, Fadel Muhammad sepertinya tetap yakin melangkah untuk melaksanakan kebijakannya.

Retribusi tidak bisa dipandang sebelah mata. Kegiatan ini merupakan salah satu sumber pendapatan daerah. Sebagai contoh di Jawa Tengah contohnya, pendapatan daerah dari retribusi nelayan dapat mencapai Rp 14 miliar per tahun. Apabila penghapusan retribusi diberlakukan, maka daerah akan kehilangan “pundi-pundinya”. Hal ini mengundang reaksi kontra terhadap pelaksanaan penghapusan retribusi nelayan di lapangan. Pihak yang belum mendukung berasumsi bahwa kebijakan Fadel Muhammad di Gorontalo akan sulit diaplikasikan apabila scope lokal diskalakan dalam kebijakan nasional.

Di lain sisi, ada pemerintah daerah yang sangat mendukung kebijakan tersebut. Pihak yang mendukung beranggapan bahwa Gorontalo yang notabenenya pernah dipimpin oleh Fadel Muhammad telah membuktikan keberhasilannya untuk melaksanakan program ini sehingga “pungutan” tersebut tidak merugikan nelayan. Selain itu berbagai alasan juga dikemukanan, mulai dari niatan ikhlas untuk mengurangi penderitaan nelayan hingga masalah “keuntungan” yang akan didapatkan sebagai kompensasi kebijakan itu. Di Kabupaten Pasuruan, PAD dari retribusi nelayan hanya sebesar kurang dari Rp 500 juta. Bagi pemda itu bukan nilai uang yang besar, akan tetapi, bagi nelayan itu bukanlah jumlah uang yang kecil. Oleh karena itu kiranya uang tersebut dikembalikan ke nelayan, maka kehidupan nelayan akan menjadi lebih baik. Bagi pemerintah daerah yang berpikir mencari keuntungan, DKP pusat juga sudah mempersiapkan dana alokasi khusus untuk mengganti rugi PAD dari retribusi nelayan. Sebagai contoh, misalnya Daerah Jawa Tengah merasa rugi untuk mengembalikan uang retribusi Rp 14 miliar kepada nelayan, maka DKP pusat telah menyiapkan dana pengganti sebesar Rp 40 miliar dan bahkan dari sumber lain dijelaskan bahwa penggantian itu dapat mencapai Rp 80 miliar. Sementara untuk Indonesia secara keseluruhan, Dana Alokasi Khusus (DAK) senilai Rp 1,7 triliun. Apakah ini ide atau kebijakan yang brilian ataukah radikal?

Idealita dan Realita

Tataran kebijakan terkadang memang sulit diaplikasikan di lapangan. Master plan yang begitu ideal tidak jarang berbenturan dengan kondisi yang minim dukungan. Di Kota Pangkalpinang, Komisi B DPRD Kota harus berkoordinasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Kota untuk meninjau surat edaran (SE) Menteri Kelautan dan Perikanan. Sedangkan pemerintah provinsi tampaknya masih berlahan merespon kebijakan Fadel Muhammad tersebut. Bukan tanpa alasan kebijakan yang akan diambil daerah. Pemerintah harus berpikir ekstra untuk mensiasati kondisi kehilangan sumber PADnya. Sebagai contoh, di TPI ketapang target retribusi dari pelelangan ikan pada 2008 mencapai Rp 350 juta per tahun. Data hingga September 2009, retribusi TPI Ketapang mencapai Rp 250 juta. Oleh karena itu, pemerintah merasa perlu mempertimbangkan dengan matang segala konsekuensi dan kompensasi yang akan diterimanya jika melaksanakan atau tidak melaksanakan SE tersebut. Disisi lain, nelayan di Bangka Belitung, sebagai contoh di TPI Ketapang Pangkalpinang berharap “angin syurga” yang berhembus melalui SE Fadel Muhammmad betul-betul terealisasi dengan baik. Jika pemerintah beranggapan bahwa mereka akan kehilangan “mata pencaharian”, mungkin ada benarnya. Tetapi apakah kehidupan nelayan harus dipertaruhkan untuk sebuah kebijakan yang tidak berpihak pada mereka, apabila pemerintah bersikeras untuk tetap memungut retribusi. Apakah tidak ada sumber pendapatan lain yang lebih baik untuk menghidupkan pendapatan asli daerah, tanpa harus mempertaruhkan kehidupan nelayan yang sejak dahulu kala selalu terkesampingkan.

Nasib Kaum Marginal

Pada kenyataannya, hari ini banyak nelayan yang berharap bahwa uang retribusi yang harus mereka bayarkan dapat mereka bawa pulang ke rumah untuk membahagiakan anak-anak dan istrinya. Mereka berharap besar bahwa pertaruhan hidup mereka di tengah keganasan lautan dapat di rasakan oleh keluarga mereka, walaupun hanya berharga sepiring nasi. Sudah cukup lama mereka menjadi kaum marginal di negeri maritim yang memiliki luas lautan ¾ wilayah teritorialnya, Indonesia. Sudah tidak asing lagi jika nelayan hanyalah kaum lapis terendah yang keberadaannya dipandang sebelah mata; hanya sebagai penyedia ikan di meja makan. Mungkinkah retribusi yang sudah puluhan tahun dipungut tersebut sebenarnya merupakan kebijakan “pemerasan” bagi kaum marginal?.

Sekarang, tinggal kita semua menanti bagaimana akhir perjalanan kebijakaan Fadel Muhammad dari DKP pusat sampai pada level terendah pengambil kebijakan di daerah. Apakah surat edaran itu akan mengangkat derajat kesejahteraan nelayan ataukah sebuah legitimasi untuk memarginalisasi kaum nelayan??.


DAFTAR MATA KULIAH

CATEGORY: , |
0
1. Pendidikan Agama
2(2 – 0)
Mengkaji aspek yang berhubungan dengan mahluk, dan sifat serta kekuasaan Allah SWT. Mempelajari keRasullan dan Syariah islam, menganalisa hubungan manusia dengan dirinya, dengan manusia lain, dengan alam/lingkungan. Menganalisa islam untuk disiplin ilmu, mengkaji budaya islam, mempelajari iman, ibadah sholat, puasa zakat dan haji.

2. Kewarganegaraan
2(2 – 0)
Wawasan Nusantara, Ketahanan Nasional dan Politik, Strategi Pertahanan Nasional sebagai landasan memahami Sistem Pertahanan Rakyat Semesta. Memupuk dan meningkatkan kesadaran nasional bermasayarakat, berbangsa dan bernegara dengan menjujung tinggi Hak Asasi Manusia secara universal sesuai dengan UUD’ 45, Pancasila dan Ketatanegaraan.

3. Pancasila
2(2 – 0)
Memberi landasan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang kokoh untuk membangun sikap dalam berinteraksi dengan lingkungan masyarakat dan mengembangkan budaya toleransi dan prasangka positif kepada sesama umat manusia dalam sendi-sendi kehidupan sehari-hari.

4. Bahasa Indonesia 2(2 – 0)
Ejaan bahasa Indonesia, pemakai dan penulisan huruf, penulisan kata, penulisan unsur serapan, alat komunikasi, tanda baca, tata kalimat, kalimat minim, kalimat minor, kalimat inti, kalimat transformasi, kalimat tunggal, kalimat majemuk, kalimat efektif, paragraf, kesatuan, koherensi, kerangka karangan dan pengembangannya.

5. Bahasa Inggris 2(2 – 0)
Memahami dan mengetahui artikel Bahasa inggris yang berkaitan dengan ilmu pendidikan, berlatih dan terampil dalam listening, comprehension, writing, dan translating Bahasa Inggris yang berkaitan dengan ilmu dibidangnya masing-masing dalam bahasa inggris. Memahami struktur kalimat dalam Bahasa inggris dan lebih mengenal test TOEFL

6. Matematika 3(3 – 0)
Membahas himpunan dan pengolahannya, pengantar hitung peluang, aljabar pernyataan, induksi matematika, himpunan ganda kartesius, hubungan, fungsi dan pengolahannya, vektor dan matriks serta himpunan persamaan linier. Peran ilmu matematika dalam kehidupan sehari-hari dan hubungannya dengan terapan ilmu lain


7. Fisika 3(1 – 2)
Membahas topik sistem satuan, analisis dimensi, kinematika, dinamika fluida, gerak harmoni, dan gerak gelombang, hukum gas, kalor, konduksi, konveksi dan radiasi, hukum termodinamika, medan listrik, potensial listrik, arus listrik, rangkaian DC/AC, cahaya, sifat cahaya dan fisika modern.

8. Kimia Anorganik 3(1 – 2)
Bahan dan pengukuran, teori atom, stoikiometri, gas elektron, dalam atom, daftar periodik dan sifat-sifat atom, dasar ikatan kimia, campuran kesetimbangan dan asam basa, kimia lingkungan.

9. Kimia Organik 3(1 – 2)
Meliputi konsep dasar ikatan kovalen, sifat fisik, kimia struktur dan reaksi-reaksi yang berhubungan dengan gugus fungsional (senyawa hidrokarbon, alkil halida, alkohol, eter dan senyawa yang berhubungan, aldehid dan keton, asam karboksilat dan turunannya, amina dan amida, serta senyawa makro molekul/penyusun kehidupan).

10. Biologi Umum 3(2 – 1)
Konsep hidup, asal mula kehidupan, sel sebagai satuan terkecil kehidupan, teori sel, jaringan dan organ, keanekaragaman makhluk hidup, metabolisme, mekanisme evousi, reproduksi, populasi, kumunikasi, ekosistem, tingkah laku hewan, proses-proses dasar evolusi dan bioteknologi

11. Biokimia 3(1 – 2)
Telaah tentang proses-proses biokimia yang terjadi pada biota perikanan. Aplikasi dan kaitan proses tersebut dalam peningkatan produk perikanan. Aspek siklus energi hayati, gizi dan regulasi metabolisme.

12. Pengantar Ilmu Ekonomi 3(1 – 2)
Ruang lingkup ekonomi produksi meliputi fungsi produksi dan fungsi biaya, dan masalah-masalah dalam pendugaan produksi, efisiensi produksi dan skala ekonomi serta implikasinya untuk usaha perikanan.

13. Kewirausahaan 3(1 – 2)
Memberikan pengertian akan unsur-unsur kewirausahaan perikanan meliputi identifikasi pasar, peluang usaha, upaya peningkatan produksi dan orientasi pasar.

14. Dasar-dasar Manajemen 2(2 – 0)
Mempelajari Dasar manajemen dan tujuannya, hakekat dan prinsip, unsur dan ruang lingkup, kedudukan dan masalah, keputusan dan prinsip pembuatan keputusan, fungsi manajemen, perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan, bisnis dan tanggung jawab sosial.


15. Statistika 3(3 – 0)
Konsep dasar statistika, peluang dan sebaran, statistika deskritif, pendugaan nilai tengah populasi, analisis regresi dan korelasi, perancangan percobaan, analisis ragam dan aplikasi computer untuk analisis data

16. Perancangan Percobaan 3(3 – 0)
Mempelajari pengertian, peranannya dalam penelitian ilmiah dan prinsipdasar perancangan percobaan. Jenis-jenis rancangan dan analisis ragamnya: rancangan acak lengkap (klasifikasi satu arah), rancangan acak kelompok(klasifikasi dua arah) dan rancangan bujur sangkar latin. Pembandinganberganda dan pembandingan ortogonal. Transformasi data untuk data yangdisifati oleh heterogenitas ragam galat. Percobaan faktorial : pengaruh utama dan interaksi, faktorial 2 faktor dan 3 faktor.

17. Metode Ilmiah 2(1 – 1)
Filsafat ilmu dan metode ilmiah, tahapan metode ilmiah, penyusunan usulan penelitian, penyusunan karya ilmiah (skripsi, laporan praktek lkerja, poster, artikel), teknik penyajian ilmiah (seminar dan poster).

18. Pengantar Ilmu Perikanan 2(2 – 0)
Memberi gambaran umum tentang potensi sumberdaya hayati dan prospek peluang perikanan serta kebijaksanaan pemanfaatan secara lestari, optimal dan berkelanjutan.

19. Ekologi Perairan 3(2 – 1)
Membahas pengertian dasar ekosistem, faktor-fakor pembatas perubahan populasi, komunitas, habitat, proses suksesi dan penelaahan komponen dalam suatu komunitas, klimaks dalam lingkungan perairan.

20. Ikhtiologi 3(2 – 1)
Membahas secara umum organ tubuh ikan serta fungsinya, sistematika, ekobiologi, distribusi, dan pengenalan ikan-ikan ekonomis penting.

21. Biologi Perikanan 3(1 – 2)
Membahas dinamika daur hidup ikan dari telur sampai dewasa, reproduksi, makanan dan tumbuhan

22. Fisiologi Reproduksi Ikan 3(1 – 2)
Membahas tentang prinsip mekanisme proses fisiologis dan metabolisme serta konsep homeostasi dan bioenergetika, proses sirkulasi, respirasi, pencernaan osmoregulasi, dan reproduksi.




23. Dasar-Dasar Budidaya Perairan 3(1 – 2)
Membahas tentang prinsip-prinsip pemanfaatan produktivitas perairan dan pengelolaan budidaya ikan dan jasad perairan lainnya.

24. Penyakit Ikan 3(1 – 2)
Mempelajari berbagai macam jenis parasit dan penyakit ikan, cara diagnostik, pengendalian serta penanggulangannya.

25. Manajemen Lingkungan Budidaya 4(2 – 2)
Menelaah kualitas dan kesuburan perairan agar dapat menciptakan kegiatan budidaya yang efisien, ekonomis, dan lestari. Pembahasan meliputi prinsip teknologi pengelolaan wadah dan kualitas air dan kesuburan media budidaya perairan dan pengelolan air buangan dari kegiatan budidaya agar dapat mendukung tingkat kelayakan usaha budidaya.

26. Budidaya Perairan Tawar 3(1 – 2)
Membahas tentang teknik budidaya organisme akuatik di perairan tawar, khususnya proses pendederan dan pembesaran.

27. Budidaya Perairan Payau 3(1 – 2)
Membahas tentang teknik budidaya ikan dan ono ikan di perairan payau dan laut dengan penekanan pada proses pendederan dan pembesaran.

28. Budidaya Perairan Laut 4(2 – 2)
Mempelajari berbagai sistem dan teknologi pembesaran jasad perairan laut. Pemilihan komoditas dan lokasi budidaya, teknik dan pengelolaan, budidaya binatang dan tumbuhan air, sea ranching. Pengadaan dan penanganan benih. Perencanaan produksi, organisasi, pengendalian dan evaluasi proses produksi budidaya perairan laut, permasalahan dan prospek pengembangannya.

29. Fisika Kimia Perairan 3(1–2)
Menelaah komponen dan proses fisika-kimia tanah dan air yang mendasari fenomena kualitas lingkungan akuakultur dan interaksinya dengan organisme air, proses fisika-kimia yang terjadi di dalam perairan serta pengaruh dan interaksinya dengan kehidupan organisme air dan kegiatan budidaya ikan

30. Limnologi 3(2 – 1)
Morfologi perairan tawar. Tipe distribusi dan sifat fisika kimia dan biologi perairan tawar. Peranan cahaya, pola distribusi suhu, oksigen terlarut, karbondioksida, pH dan reduksi oksidasi. Siklus unsur hara berkaitan dengan proses produktivitas perairan. Peranan bahan organik dan detritus serta pengantar aspek bioluminologi



31. Produktivitas Perairan 3(2 – 1)
Produktivitas primer dan sekunder pada berbagai ekosistem yang berbeda (perairan tergenang dan mengalir tipologi perairan) cara pengukuran dan komponen penyusunnya peranannya sebagai penduga kesuburan dan tingkat saprobik (bio indikator)

32. Teknik Pengembangbiakan Ikan 3(1 – 2)
Menelaah tentang faktor-faktor eksternal (lingkungan) dan internal dalam pengembangbiakan ikan-ikan, teknik-teknik perangsangan pemijahan, pengembangan induk, fertilisasi dan dan inkubasi telur serta pemeliharaan larva.

33. Budidaya Ikan Hias 2 (1 – 1)
Teknik budidaya ikan hias ekonomis penting, sifat-sifat biologi, produksi benih dan pembesaran. Desain dan tata ruang tempat/wadah budidaya ikan hias, alat bantu dan sarana budidaya.

34. Budidaya Pakan Alami 3(1– 2)
Pengenalan berbagai pakan alami yang biasa digunakan pada budidaya perairan, penjelasan tentang teknik-teknik budidayanya serta penanganan produknya.

35. Teknik Pembuatan dan Pemberian Pakan Ikan 3(1 – 2)
Teknologi pembuatan pakan ikan meliputi penyiapan dan rekayasa bahan baku, formulasi dan pembuatan serta penyimpanan pakan buatan, juga manajemen pemberian pakan dikaitkan dengan pengaruh terpadu jenis organisme budidaya, kualitas media dan teknik budidaya perairan.

36. Pengendalian Parasit Penyakit Ikan 3(1 – 2)
Mempraktikan cara-cara meningkatkan kesehatan ikan budidaya dengan teknik pencegahan, perlindungan, dan pengobatan ikan dari serangan penyakit yang disebabkan oleh serangan penyakit yang disebabkan oleh serangan parasit dan mikroorganisme pathogen lainnya

37. Nutrisi Ikan 3(1 – 2)
Membahas tentang dasar-dasar dan penerapan ilmu nutrisi, mencakup fungsi, metabolisme dan kebutuhan nutrisi ikan. Selajutnya mempelajari kualitas nutitif bahan pakan berdasarkan evaluasi fisik, kimia dan biologi.

38. Dasar-dasar Genetika Ikan 3(2 – 1)
Material dasar pada penurunan sifat, khususnya mengenai DNA dan kromosom ikan. Genetik fenotip, kualitatif dan kuantitatif. Pemenfaatan keragaman fenotip dan seleksi ikan. Strategi penerapan dalam genetika ikan dalam budidaya ikan




39. Avertebrata Air 3(2 – 1)
Struktur anatomi dan morfologi reproduksi, daur hidup, habitat hewan avertebrata air dan peranannya dalam sumberdaya perairan. Fungsi organ dalam reproduksi dan pertumbuhan avertebrata air.

40. Dasar-dasar Mikrobiologi Akuatik 3(2 – 1)
Mempelajari jasad mikroba akuatik meliputi taksonomi, morfologi, metabolisme dan reproduksi dari pada bakteri, virus, cendawan, alga, dan protozoa. Dibahas juga mengenai metode isolasi dan identifikasi serta kepentingannya dalam kegiatan akuakultur maupun perikanan.

41. Parasitologi Ikan 3(2 – 1)
Mempelajari dan mengidentifikasi organisme parasit pada ikan yang meliputi protozoa, cacing, dan krustase; hubugan inang-parasit, ekologi parasit dan peran parasit sebagai indikator biologis ikan; serta teknik pengendalian parasit secara fisika, kimiawi, dan biologis

42. Manajemen Pencemaran 3(2 – 1)
Mata kuliah manajemen Pencemaran Lingkungan ini berisi tentang arti dan konsep pencemaran lingkungan, sumber-sumber dan proses terjadinya pencemaran udara, air dan daratan, pengaruh pencemaran terhadap biota air, pengaruh kegiatan perikanan terhadap lingkungan dan peran perikanan itu sendiri dalam mengurangi dan mengatasi pencemaran tersebut.

43. Manajemen Pemberian Pakan 3(2 – 1)
Dasar-dasar teknologi pemberian pakan ikan (bentuk, distribusi pakan, tingkat pemberian, frekuensi, waktu, tempat dan prasarana pemberian pakan), dikaitkan dengan pengaruh terpadu jenis ikan budidaya, kualitas media budidaya dan jenis biotik budidaya perairan.

44. Manajemen Kesehatan Ikan 3(2 – 1)
Mempelajari permasalahan penyakit dalam kegiatan budidaya perairan, cara-cara pengendalian penyakit ikan di pembenihan dan pembesaran ikan secara regional, legalitas dan aspek hukum karantina serta pengelolaan kesehatan ikan secara terpadu.

45. Program Penyuluhan Perikanan 3(2 – 1)
Mempberikan pengertian dasar dan prinsip penyuluhan, peranan komunikasi difusu dan adopsi inovasi dalam penyuluhan. Pengembangan dan pembinaan kelompok. Metode, materi dan sarana penyuluhan. Perencanaan/program dan evaluasi penyuluhan. Peranan/kebijaksanaan penyuluhan dalam pembangunan perikanan.



46. Rekayasa Wadah budidaya 3(2 – 1)
Mempelajari kondisi hidrotopografi dan tanah bagi keperluan rancang bangun perwadahan dan sarana budidaya ikan. Survai, pemetaan, tata ruang, tata air dan konstruksi wadah serta alat bantu untuk budidaya perairan.

47. Biologi Laut 3(1 – 2)
Membahas tentang dunia kehidupan laut berdasrkan keanekaragaman flora dan faunanya, prinsip-prinsip biologi yang mengatur organisme dan kelangsungan hidup organisme dan sosiasinya.

48. Oseanografi 3(1 – 2)
Gambaran secara umum mengenai laut dan fenomena yang terjadi di laut, meliputi aspek oseanografi fisika, kimia, dan biologi. Metode pengamatan dan cara analisis parameter fisika, kimia, dan biologi laut

49. Pengolahan Data Perikanan 3(1 – 2)
Pengenalan komputer dan sistem aksploitasinya. Penguasaan paket program pengolahan data, manajemen data dan data base teladan-teladan terapan dibidang perikanan.

50. Penanganan dan Pengangkutan Ikan 3(2 – 1)
Teknologi transportasi komuditas perikanan daridalam air sampai ke konsumen dengan pertimbangan volume, mutu dan harga jual.

51. Manajemen Panti Benih 3(1 – 2)
Rancangan proses produksi dan pemilihan teknologi pembenihan ikan air tawar, payau dan laut. Intensitas penggunaan dan penyediaan sarana produksi, penjadwalan serta pengawasan penerapan teknologi dan proses produksi.

52. Pemasaran Hasil Perikanan 2(1 – 1)
Konsep dasar, fungsi dan proses pemasaran, konsep harga dan biaya, pengertian penawaran dan permintaan, sifat pemasaran hasil perikanan, peranan pemerintah dan pemasaran.

53. Manajemen Usaha Budidaya Ikan 3(1 – 2)
Mempelajari berbagai sistem dan teknologi pembesaran jasad budidaya perairan. Strategi pemilihan komuditas, peranan dan fungsi manajemen, perencanaan produksi, organisasi dan pengendalian proses produksi dengan memperhatikan faktor kritis.

54. Pengantar Teknologi Hasil Perikanan 3(1 – 2)
Memberikan tentang pengetahuan teknik pengolahan hasil perikanan baik secara tradisional maupun modern. Memberikan gambaran tentang prospek tentang penguasaan teknik pengolahan hasil perikanan pada masa mendatang.

55. Sosiologi Perikanan 2(2 – 0)
Memberikan pengetahuan dan pemahaman beberapa teori sosiologi yang penting, sehingga mereka dapat melakukan analisis sosiologi terhadap masyarakat perikanan. Selain itu, berbagai isu atau masalah dibidang perikanan akan dibahas pula.

56. Renang 1(1 – 0)
mengenal dan melakukan permainan dalam air, menghilangkan rasa takut, mengenal sifat-sifat air dan memiliki pengetahuan macam-macam permainan dalam air.
57. Pengelolaan BBI Tawar dan Bahari 3(2 – 1)
Perencanaan dan perancangan proses produksi benih dan pemilihan teknologi dalam pembenihan ikan air tawar dan ikan air laut. Penyediaan sarana produksi dan intensitas penggunaannya, penjadwalan dan pengawasan proses produksi sesuai dengan teknologi yang diterapkan.

58. Penanganan dan Pengankutan Ikan 2(1 – 1)
Menjelaskan tentang dasar-dasar penanganan ikan dan non ikan yang ekonomis penting. Penanganan dan transportasi komoditi perikanan hidup, teknik preparasi

59. Agribisnis Perikanan 2(2 – 0)
Memberikan pengetahuan dan konsep agribisnissebagai suatu sistem dan keterkaitan antara subsistem-subsistem, pelaku-pelaku dan lembaga-lembaga penunjang agrbisnis, dan peranan agribisnis dalam pembangunan nasional.

60. Manajemen Bisnis Perikanan 2(2 – 0)
Memberikan pengetahuan untuk menguasai dan menrapkan konsep, prinsip manajemen agribisnis dan segi peneyelenggaraan produksi, pengelolaan keuangan, pemasaran, sumberdaya manusia serta berbagai permasalahan kontemporer agribisnis. dalam penanganan ikan, sarana penunjang dan permasalahan penanganan ikan di Indonesia.

61. Politik dan Kebijakan Perikanan 2(2 – 0)
membahas tentang pembangunan perikanan di Indonesia, model strategi pembangunan, kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah dalam mengembangkan sektor perikanan.

62. Praktek Lapang 3(3 – 0)
Merupakan sarana aplikasi dari pengetahuan yang telah diperoleh selama mengikuti pendidikan dalam rangka memperoleh keterampilan dan gambaran realitas dari sistem pengelolaan industri hasil perikanan.

63. Magang 3(0 – 3)
Memberikan pengalaman, pengetahuan praktis, keterampilan mengenai berbagai aspek kegiatan perikanan dilapangan.
64. Seminar 2(0 – 2)
Seminar merupakan saran untuk mendiskusikan hasil penelitian yang telah dilakukan serta memperoleh saran/input dari peserta seminar.

65. Skripsi 6(6 – 0)
Penelaahan dan pemecahan masalah secara ilmiah bidang pembenihan atau pembesaran ikan dalam kaitannya dalam tugas-tugas penelitian di lapangan atau di laboratorium









Temu Akrab Dosen, Mahasiswa dan Alumni

CATEGORY: , | Selasa, 02 Februari 2010
0
Pada hari sabtu-minggu, tanggal 30-31 Januari 2010, dilaksanakan temu keakraban mahasiswa, dosen dan alumni program studi D3 Perikanan Universitas Bangka Belitung, bertempat di pantai Tanjung Asmara, Sungailiat, kabupaten Bangka, Propinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Dengan Dosen, Mahasiswa dan Alumni yang solid ini diharapkan mampu mengelola potensi propinsi kepulauan Bangka Belitung yang begitu besar dalam bidang perikanan. Daerah pesisir yang masih alami dan minim pencemaran menjadikan Bangka Belitung sebagai raksasa yang masih tertidur dalam bidang perikanan.
Program-program yang dikembangkan Program studi D3 Perikanan bersama mahasiswa dan alumni saat ini adalah :
  1. Pembudidayaan berbagai jenis ikan hias
  2. Pembenihan ikan lele bersertifikat
  3. Pembangunan kolam pembesaran ikan seluas 4 hektar
  4. Pemberdayaan potensi rumput laut sebagai komoditi khas Bangka
  5. Pengabdian masyarakat di wilayah propinsi kepulauan Bangka Belitung
  6. Riset dan Penelitian Budidaya Perikanan
Sebagai salah satu program tertua di Universitas Bangka Belitung, Tim dosen, mahasiswa dan alumni bergerak cepat memajukan perikanan di propinsi Kepulauan Bangka Belitung